29 Februari 2012

3 Keutamaan Ilmu Daripada Harta


Harta dan ilmu, 2 hal yang sangat dekat dengan manusia. Manusia tentu tidak akan bisahidup tanpa harta. Karena hanya dengan harta, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Harta akan mencukupi semua kebutuhan jasmani manusia. Namun, manusia juga tidak bisa lepas dari ilmu. Karena hanya dengan ilmu, manusia dapat memenuhi kebutuhan rohaninya. Sehingga manusia akan dapat berguna dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Persoalannya adalah, mana yang akan anda pilih jika dihadapkan pada 2 pilihan diatas. Apakah harta ataukah ilmu yang akan anda pilih? Nah, tidak ada salahnya kita belajar dari perkataan Ali Bin Abi Thalib ketika beliau ditanya dengan pertanyaan yang sama. Ternyata beliau lebih memilih ilmu ketimbang harta. Menurut beliau, Ilmu memiliki banyak keutamaan ketimbang harta. Apa sajakah keutamaan ilmu dibanding harta menurut beliau ? ini dia 3 Keutamaan Ilmu Daripada Harta

1.Harta Akan Berkurang Jika Diberikan Sedangkan Ilmu Justru Bertambah
Ketika anda memiliki uang sebesar 10.000 misalnya, lalu anda berikan uang itu kepada teman anda sebesar 5.000, akankah uang itu bertambah ? tentu tidak bukan. Semua harta, apabila diberikan kepada orang lain pasti jumlahnya akan berkurang.

Berbeda dengan ilmu, ilmu tidak akan pernah berkurang. Sekalipun anda memberikannya kepada orang lain. Guru misalnya, setiap hari mereka mengajarkan ilmu yang mereka miliki kepada murid-muridnya. Apakah dengar mengajar, lantas semua ilmu yang dimiliki sang guru akan hilang ? tidak bukan. Justru ilmu yang dimiliki guru tersebut akan semakin menancap di otak.

2. Harta Perlu Dijaga, Sedangkan Ilmu Justru Menjaga
Semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, maka akan semakin sibuk pula orang tersebut berusaha untuk menjaganya dari incaran orang-orang yang ingin merampas harta tersebut. Entah itu pencuri di tengah malam ataupun perampok yang bisa datang sewaktu-waktu. Dengan harta yang semakin banyak, bukannya semakin membuat hati tenang dan tentram, justru sebaliknya, hati akan dibuat semakin cemas, resah dan takut kehilangan harta tersebut.

Berbeda dengan ilmu, semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, maka akan semakin terjaga pula orang tersebut dari hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Misalkan saja seseorang yang memiliki ilmu beladiri, Ia akan lebih terjaga dari serangan perampok yang masuk ke rumahnya untuk mengambil harta bendanya. Bahkan mungkin dengan ilmu bela dirinya tersebut, Ia dapat menangkap dan menghajar perampok tersebut. Nah, kesempatan tersebut tentu berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu bela diri. Sangat mungkin orang tanpa ilmu ini hanya berdiam diri saja tanpa perlawanan. Dan mungkin saja mereka akan dibunuh oleh perampok tersebut agar si perampok lebih mudah mengambil harta bendanya.

3.Harta Bisa Dicuri, Sedangkan Ilmu Tidak
Banyak sekali dijumpai, entah itu di televisi, di surat kabar atau bahkan di lingkungan sekitar, orang-orang yang menangisi hartanya yang hilang dirampas perampok atau diambil pencuri. Memang, harta itu bisa lenyap kapan saja. Entah lenyap karena bencana alam, lenyap karena kebakaran atau lenyap karena hal-hal lainnya.

Namun berbeda dengan ilmu, sangat jarang ditemui, bahkan mungkin tidak pernah, seseorang yang berteriak-teriak histeris karena merasa kehilangan ilmu atau seseorang yang bersedih hati karena merasa ilmunya telah dirampas secara paksa oleh orang lain.

Nah itulah 3 Keutamaan Ilmu Daripada Hart menurut Ali Bin Abi Thalib. Sebenarnya ada 10 keutamaan yang beliau sampaikan. Namun, saya hanya menuliskan beberapa keutamaan yang saya anggap universal, sehingga bisa diterima oleh semua kalangan. So,manakah yang akan anda pilih ? harta ataukah ilmu ?

share it ..........

5 Perbedaan Guru Dulu dan Sekarang


Segala sesuatu yang ada di dunia pasti tak luput dari yang namanya kekurangan. Sama halnya dengan profesi guru. Entah itu guru zaman sekarang ataupun zaman dahulu semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada artikel sebelumnya saya telah membahas tentang “Metode ‘Keras, apakah Manjur”. Nah, kali ini saya akan berbicara mengenai 5 Perbedaan Guru Dulu dan Sekarang. Hal apa sajakah yang membedakan guru Zaman Dulu dan Sekarang ? ini dia ..

1.Cara Mengajar
Cara mengajar yang diterapkan oleh guru zaman dulu umumnya adalah dengan menggunakan penjelasan yang bertele-tele, yang sepertinya setiap kata yang ada di buku itu dibaca. Dengan metode ini, pengetahuan yang diterima siswa hanya bersumber dari sang guru saja. Sedangkan guru zaman sekarang lebih sering hanya menjelaskan secara singkat materinya, lalu mempersilahkan para siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan. Dengan cara ini, siswa jadi terpacu untuk mengembangkan pengetahuannya di luar sekolah. Misalnya dengan browsing di Internet, mengikuti kursus, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang didapat pun akan semakin banyak

2.Cara Menasihati Siswa
Cara menasihati siswa yang dilakukan oleh guru-guru zaman dulu adalah dengan kalimat- kalimat yang biasanya kasar. Seperti menyinggung kondisi ekonomi keluarganya, penampilannya, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat para siswa saat itu menjadi berfikir keras agar tidak akan diledek oleh guru-guru mereka. Perlakuan berbeda dilakukan guru zaman sekarang. Mereka biasanya menasihati para murid hanya dengan nasihat-nasihat yang halus dan tidak sampai menyinggung perasaan murid tersebut. Cara ini kurang efektif karena murid kadang-kadang hanya mendengarkan di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.

3.Cara Berinteraksi Diluar Kelas
Guru-guru zaman dulu dengan gaya mengajarnya kaku, diluar kelas apabila disapa oleh murid nya, mereka hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja. Karena dalam diri mereka, ada suatu doktrin yang menjelaskan bahwa ada garis pemisah antara guru dan murid. Jadi, sang murid harus sangat menghormati gurunya. Sedangkan guru zaman sekarang lebih luwes dalam berinteraksi diluar kelas. Misalkan saja ada murid-muridnya yang menyapa,mereka akan tersenyum lepas dan kadang-kadang justru bercanda dengan murid-muridnyaitu. Seakan akan tidak ada garis batas antara murid dan guru. Guru pun bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hati kita (curhat) tentang sekolah maupun kehidupan sehari-hari kita.

4.Penggunaan Teknologi
Ketika zaman dulu, yang mana saat itu teknologi belum secanggih sekarang ini, seorang guru apabila ingin menjelaskan materinya, hanya dengan menggunakan kapur dan papan tulis kayu saja. Atau bila dengan alat bantu, paling jauh hanya menggunakan peta untuk pelajaran geografi. Hal yang sangat berbeda dilakukan oleh guru zaman sekarang. Guru sekarang lebih senang menuliskan materi ajarnya di sebuah file presentasi yang nanti hasilnya bisa ditampilkan di layar menggunakan LCD proyektor. Disamping lebih praktis, cara ini bisa membantu para siswa untuk mengetahui lebih detail suatu gambar/objek/benda.

5.Pemberian Nilai Pemberian nilai yang dilakukan oleh guru zaman dulu adalah selain nilai asli, ada nilai yang diambil secara subyektif oleh guru tersebut. Hal-hal yang dinilai antara lain adalah kesopanan, etika, dan keantusiasan siswa tersebut dalam mendalami materi yang diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut. Berbeda dengan guru zaman sekarang. Kebanyakan guru zaman sekarang hanya mengisi kolom nilai seorang murid hanya dari hasil rata-rata ulangan ditambah tugas, dan keaktifannya dalam bertanya ataupun menjawab. Sehingga tidak jarang nilai yang muncul di rapor tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari murid tersebut.

Guru zaman dahulu dan zaman sekarang ternyata memiliki perbedaan yang sangat menonjol, dan ini menunjukkan ciri khas masing-masing guru. Nah, alangkah lebih baik, apabila hal yang baik di masa lalu diterapkan di masa kini dan hal yang buruk dijadikan pelajaran. Well, bagaimana Sobat Bloggers ? setujukah dengan opini diatas

26 Februari 2012

“INI BUDI”



“INI BUDI”, inilah kira-kira kurikulum paling awal ketika aku belajar mengeja hingga membaca saat masih di bangku sekolah dasar. Kata “INI BUDI” itu begitu melekat hingga saat ini, dan ternyata kurikulum itupun sempat lama sekali menjadi kurikulum tetap untuk belajar mengeja dan membaca di bangku sekolah dasar. Terkadang muncul dibenakku kenapa harus nama “ BUDI” yang menjadi ikon tersebut, kenapa tidak Bambang, Ujang ataupun Jampang, toh nama-nama tersebut juga nama asli Indonesia. Tapi biarlah mungkin saat itu sang penulis buku pelajaran, lebih nyaman dengan nama “BUDI”. Atau bisa juga nama “BUDI” merupakan nama yang paling sederhana, mudah di ingat dan di eja.

Tapi memang benar “BUDI” adalah nama yang cukup singkat dan mudah untuk di ingat siapapun tak terkecuali untuk anak-anak. Mungkin di negri ini tak terhitung berapa jumlah nama orang Indonesia dengan nama BUDI, begitu pasaranya nama BUDI, bahkan aku sempat menghitung brapa banyak jumlah temanku yang bernama BUDI dan ternyata lumayan banyak sekitar diatas 30 Orang. Dari sekian banyak temanku yang bernama BUDI, ternyata tak satupun beridentitas orang bule dan sepertinya nama BUDI memang tak cocok untuk bule. Mungkin cukup unik juga kalo ada orang bule bernama BUDI, kalo pun ada pasti bule lokal.

Tapi jika kembali ke masalah kurikulum membaca pada jamanku dulu, Kata “INI BUDI” memang cukup menjadi sebuah fenomena yang tak bisa dipungkiri keabadianya untuk beberapa zaman. Sebuah keabadian sejarah dunia pendidikan yang bakal menjadi kenangan masa lalu yang tertimbun dengan kurikulum baru namun tetap tak terlupakan.

Kalau menilik dari makna kata “BUDI”, memang berarti sesuatu yang baik. BUDI sebagai kata benda merupakan sesuatu yang berati sebuah prilaku atau karakter yang baik. Dan jika menjadi kata sifat dengan awalan ber-BUDI, maka menandakan subyeknya adalah orang yang memiliki karakter atau prilaku kearifan dan dapat juga diartikan memiliki akal yang baik. Sebuah kata mem-BUDI dayakan dalam kalimat ini, juga berarti sebuah kemampuan.

Jadi begitu luhurnya makna kata “BUDI” dalam bahasa nasional. Sehingga wajarlah jika kurikulum awal pada zamanku dulu menggunakan kata “BUDI” untuk sebuah nama atau sebuah simbolisasi yang mudah di tangkap dan di eja serta dipelajari karena maknanyapun begitu bagus terutama bagi anak-anak yang sudah mulai belajar membaca.

Jika di Indonesia ada nama “BUDI”, mungkin di negara barat ada nama “JOHN”. Tapi aku kurang paham filosofi Kata “JOHN”. Yang kuketahui selain untuk nama seseorang, JHON juga sering digunakan untuk memanggil seseorang yang belum diketahui namanya, mungkin bisa juga bermakna BUNG. Bahkan terkadang kata “JOHN” juga bisa diselewengkan menjadi makna kalimat SLANG yang bermakna negative. Tapi di Indonesia tak sedikit yang menggunakan nama JOHN untuk sebuah nama yang di kombinasikan dengan nama Indonesia.

Sama halnya dengan kata BUDI, ternyata kata JOHN juga menjadi kurikulum yang sering di ajarkan di negara barat untuk kalangan anak-anak dalam memahami bacaan. “INI BUDI” atau “THIS IS JOHN” kira-kira begitu.

Jika orang Indonesia banyak yang menggunakan nama BUDI karena paham arti nama tersebut, dan orang barat tidak ada yang menggunakan nama BUDI karena tidak paham arti nama tersebut serta mungkin tidak lazim mereka pakai nama itu. Tetapi orang Indonesia banyak yang menggunakan nama JOHN.

Mungkin saja jika orang barat tahu dengan baik, arti dan makna kata BUDI, maka tak menutup kemungkinan suatu hari nama BUDI menjadi go internasional. Misalnya BUDI Shakespear, BUDI Gonzalles, BUDI Inzagi, BUDI Ferguson, BUDI Klinsmann, BUDI Yamamoto, dan BUDI BUDI yang lain. 

21 Februari 2012

Kerendahan Hati : Puisi oleh Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin 
Yang tegak di puncak bukit 
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, 
Yang tumbuh di tepi danau 

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, 
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang 
Memperkuat tanggul pinggiran jalan 

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya 
Jadilah saja jalan kecil, 
Tetapi jalan setapak yang 
Membawa orang ke mata air 

Tidaklah semua menjadi kapten 
Tentu harus ada awak kapalnya…. 
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi Rendahnya nilai dirimu 
Jadilah saja dirimu…. 
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Kamus basa sunda


Bagéa para wargi! Sim kuringi mosting kamus basa Sunda-Indonesia-Inggris. Mugia ieu kamus mangpaat pikeun urang saréréa. Mangga titénan.

abdi : saya; I

anjeun : anda, kamu; you

anjeunna : dia, dirinya; he / she

apal; ngapalkeun : menghafal; to memorize by heart

atikan : pendidikan; education

basisir : pesisir; shore

bireuk : hafal; know by heart

batur1 : asing; strange

batur2 : teman; company

betus : membuka rahasia; to reveal

cacah kuricakan : rakyat jelata; proletar

cerek; nyerek : menangkap; to catch

cocodot : keluang (kalong); fruit-eating bat

cagap; nyagapan : menyentuh; to touch

dalang : dalang; master of puppet

deungeun : asing; strange

dukun lepus : dukun sakti; sacred witch-doctor

diajar : belajar; to study

élmu : ilmu; knowledge

enggoning : dalam rangka; in order to

ésér; ngésér : bergeser; shift

géréwégan : cengeng; whine

gilir; bagilir : bergiliran; alternate

guru : guru; teacher

gedé; gegedéan; gegedén : bangsawan, pejabat; noble, lord

gédéng; sagédéngeun : di sebelah,di samping; next to

genah; ngeunah : enak, nyaman; comfortable

guar; ngaguar : mengingat kembali; brush up on

hidep : anda, kamu; you

hurip : hidup dalam kedamaian; to live peacefully

irut; pangirut : daya tarik; attraction

kahormatan : citra; image

kamashur; kasohor : terkenal; famous, popular, outstanding

karancagéan : keahlian; skill

kulawedet : keluarga; family

kuring : saya; I

langgar; ngalanggar : melanggar; break (the law, etc.)

logojo : algojo; executor

luhung; luhur : tinggi; high

mandiri : mandiri; stand alone

manéh : anda, kamu; you

manéhna : dia, dirinya; he/she

marakayangan : menghantui; to haunt

maranéhna : kalian; you

mekar; ngamekarkeun : mengembangkan; developing, fostering

metu : mempan; successfully applied

meuweuh : banyak bermunculan; popping out

murus; muncrut : mencret; diarrhea

monés; kamonésan : keahlian; skill

mumulé; ngamumule : melestarikan; to conserve, preserve

murid : murid; student

ngémploh : hijau subur (tanaman); evergreen

nonoman : pemuda, pemudi; youth

pabukon : perpustakaan; library

paguron : perguruan; school

pakakas : sarana, alat; medium, tools

panalungtikan : penelitian; research

panceg : tetap, teguh; firm

puseur : pusat; center

panyarék : larangan; prohibition

pernahna : adanya, tempatnya; in place

pinton; mintonkeun : mempertunjukkan; to show

puseur : pusat; center

pustakamangsa : majalah; magazine

ranjah; diranjah : dirampok; robbed

rampa; dirampaan : disentuh; touched

rempak; ngarempak : melanggar; break (the law, etc.)

rédés : tersusun; arranged in orderly fashion

rojong; dirojong : didukung; supported

rongkong; rorongkong : tulang kerangka manusia; human skeleton

sebar; sumebar : menyebar; spread

sindén : penyanyi; singer

salin jinis : berubah menjadi; turn into

samanéa : sembarangan; ordinary

sélér bangsa : suku bangsa; tribe

seukseuk; diseukseukan : dimarahi habis-habisan; called down

somah : rakyat biasa; ordinary people

surup; nyurup : menyurup; fitting

kasurupan : kesurupan; possessed

telah; katelah : terkenal; popular

tétéla; nétélakeun : menjelaskan; to explain

tumut : taat; loyal, obedient

tarékah : usaha; effort

tumaninah : enak, nyaman; comfortable

ulon-ulon : pengacau; agitator

urang1 : kita; we

urang2 : orang; people

walurat; kawaluratan : kemiskinan; poverty

wanoh; diwanohkeun : dikenalkan; to be introduced, to get acquainted

wengku; wewengkon : seputar wilayah; region

widang : bidang; field

16 Februari 2012

Satu Jiwa Pelopor Reformasi Negara












Kebanggaanku kepada Negaraku tak akan surut, 
meski kondisi negaraku saat ini sedang dalam kondisi yang carut marut







Belajar dari Gelas



Ada lima macam sikap murid yang belajar kepada seorang guru. Kelima macam murid ini di ibaratkan dengan 5 macam gelas.

Gelas Pertama adalah perumpamaan sikap seorang murid yang ideal.

Gelas Kedua adalah gelas yang tertutup. Karena tertutup gelas ini tidak tidak dapat diisi dengan apapun. Gelas ini menggambarkan sikap seorang murid yang tidak mau menerima apapun kata-kata dari siapapun. Murid ini menganggap ajaran orang lain adalah salah, meskipun dirinya tidak tahu apa yang benar. Ia tidak mau menimbang dan merenungkan kata-kata orang lain.

Gelas Ketiga adalah gelas yang sudah penuh berisi air. Karena itu tidak dapat juga di isi dengan apapun. Gelas ini menggambarkan sikap seorang murid yang mau mendengar, tetapi karena di dalam dirinya sudah ada ajaran yang dia percaya pasti benar, maka ajaran yang baru tidak bisa masuk. Ajaran yang sudah ia dengar ini menghalangi dirinya untuk mau menimbang dan merenungkan kata-kata guru.

Gelas Keempat adalah gelas yang pecah. Karena itu sekalipun dapat diisi, gelas ini tidak bisa menampung air yang dituangkan kedalamnya. Gelas ini menggambarkan seorang murid yang tidak mampu mencerna ajaran. Karena itu, meskipun murid ini mau mendengar, mau merenungkan ajaran yang diterima, ada halangan yang membuat dirinya tidak mampu memahami ajaran. Entah itu halangan fisik, halangan mental, atau kebodohan.

Gelas Kelima adalah gelas yang berisi kotoran. Karena itu apapun yang dituangkan ke dalam gelas ini akan menjadi kotor. Gelas ini menggambarkan seorang murid yang punya sikap jahat. Jika murid ini bertemu dengan yang lebih pandai, ia akan menjadi iri. Kalau bertemu dengan yang lebih bodoh, ia akan menghina. Kalau bertemu dengan yang setara, ia menganggapnya sebagai pesaing. Murid seperti gelas ke lima adalah tipe orang yang paling dihindari oleh seorang guru. Jika ada murid seperti ini, guru yang bijaksana akan menjauh.

Marilah kita semua menjadi murid-murid seperti gelas yang pertama.