05 Februari 2012
Bohong
Sudahkah Anda berbohong hari ini? Saya sudah. Saya sudah berbohong bahwa tentang alasan datang terlambat kepada seorang teman. Kemarin saya juga berbohong, walaupun sedikit. Kebohongan dilakukan oleh seorang individu yang sudah masuk dalam keseharian itu dinyatakan oleh Leonard Saxe, Ph.D., seorang profesor di Psikologi Universitas Brandeis mengatakan, “Berbohong sudah lama menjadi bagian dalam hidup. Kita tidak dapat melewati hari tanpa menipu seseorang.”
Jauh menjadi diri dewasa kita sekarang, seorang individu sudah berbohong semenjak umur tiga tahun. Anak-anak berbohong agar mereka dapat menghindari hukuman. Alasan individu berbohong adalah untuk melindungi diri sendiri dan menutupi kesalahan yang diperbuat. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk berbohong oleh orang dewasa di sekitarnya seperti ‘Bilang Ayah tidak ada di rumah’ dan juga anak diajarkan berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, misalnya ‘Bilang ke Tante Nina kalau kuenya enak.’ Fenomena ini biasa disebut white lies.
Namun fenomena keseharian ini jarang dikaji oleh para psikolog. Freud sendiri hanya menulis secara singkat sekali di buku Encyclopedia of Psychology (1984) yang jumlah halamannya sebanyak 1500 tentang aktivitas menipu ini. Tapi bagi para psikolog yang memperdalam tentang berbohong, mereka menemukan bahwa berbohong adalah sebuah fenomena yang umum sekaligus rumit.
Seorang psikolog di Universitas Virginia, Bella DePaulo, Ph.D., mengkonfirmasi pernyataan Nietzsche bahwa bohong adalah sebuah kondisi dalam hidup. Dalam penelitian tahun 1996, DePaulo dan rekan mengambil data dari 147 orang dengan rentang umur 18 hingga 71 tahun yang memiliki buku harian tentang kebohongan yang mereka ucapkan setiap minggu.
Dalam sebuah hubungan, kebohongannya tentu terjadi. Kebohongan terjadi satu dari dua percakapan antara hubungan remaja dan orang tua. Dalam hubungan romantis, 85% pasangan yang diwawancara pada penelitian tahun 1990 dilaporkan bahwa satu atau sepasang kekasih telah berbohong tentang hubungan masa lalu. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, pasutri hanya berbohong sekitar 10% dari pembicaraan utama. Namun 10% itu hanyalah kebohongan-kebohongan kecil karena kebohongan besarnya melibatkan pengkhianatan yang dalam, yang terjadi secara luas di antara dua orang yang terlibat hubungan intim. “Kamu menyimpan kebohongan terbesarmu,” ujar DePaulo, “untuk orang yang sangat dekat denganmu.”
Penelitian menemukan bahwa semakin individu dengan seseorang, maka kebohongan yang disampaikan sifatnya lebih altruistik atau mengutamakan kepentingan orang lain. Ini banyak terjadi di perempuan. Meskipun semua jenis kelamin berbohong dalam frekuensi yang sama, namun perempuan berbohong dengan maksud untuk melindungi perasaan seseorang. Sementara itu laki-laki cenderung berbohong tentang dirinya—tipikal percakapan diantara dua orang laki-laki mengandung delapan kali kebohongan yang sifatnya berorientasi terhadap diri.
Lalu siapa yang suka berbohong? Menurut Journal of Personality and Social Psychology, DePaulo dan Deborah A. Kashy, Ph.D., melaporkan bahwa para pembohong cenderung manipulatif. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa orang-orang yang ekstrovert atau yang lebih suka bersosialisasi lebih cenderung berbohong, dan beberapa trait kepribadian dan fisik—terutama kepercayaan diri dan keadaan fisik yang lebih atraktif—dihubungkan dengan kemampuan individu berbohong saat berada di bawah tekanan.
Apakah kebohongan dapat dideteksi? Jawabannya, bisa. Geoffrey C. Bunn, Ph.D., seorang psikolog dan sejarahwan poligraf di Canada’s York University menyebutkan bahwa lie detector dinyatakan bukan instrumen ilmiah atau hanya sebuah instrumen hiburan saja. Alat itu mendeteksi ketakutan, bukan kebohongan. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kebohongan dalam dideteksi dengan cara keragu-raguan dalam berbicara atau ada perubahan nada pada suara, mengenal beberapa kebiasaan nervousseperti menggaruk, mengedip, atau gelisah. Selain itu juga ada pola yang bisa diprediksi dari seseorang yang sedang berbohong misalnya pembohong jarang menggunakan kata ganti pertama ‘saya’ dalam menulis atau berbicara. Mereka juga sering menggunakan kata-kata yang emosional seperti sakit atau marah, kata-kata kognitif seperti mengerti atau memahami.
Orang-orang berbohong dengan alasan yang berbeda. Semua orang melakukannya. Beberapa orang frekuensi berbohongnya lebih banyak dari orang lain. Dan karena begitu terkaitnya dengan kehidupan keseharian, bohong hanya menjadi sifat lain dalam diri manusia saja.
Pendidikan Formal tidak didesain untuk Mendidik Pelajar untuk Menguasai hal-hal yang Mendasar
Entah berapa jam waktu pendidikan formal yang kita habiskan untuk mempelajari hal-hal ini:
· Matematika
· Bahasa Indonesia
· PKn
· Bahasa Inggris
· Fisika
· Kimia
· Biologi
· Ekonomi
· Sejarah
· dan lain-lain
Sementara itu, masih misteri bagi saya mengapa pendidikan formal tidak didesain untuk mendidik pelajar untuk menguasai hal-hal yang mendasar seperti ini:
· Bagaimana caranya agar mandiri secara finansial sesegera mungkin
· Bagaimana caranya untuk mencapai cita-cita
· Bagaimana caranya untuk menguasai suatu bidang keahlian
· Memecahkan masalah
· Berdagang
· Negosiasi dan presentasi dan meyakinkan orang lain
· Leadership: Memimpin tim / bisnis
· Menciptakan produk yang menyelesaikan masalah
· Manajemen diri dan manajemen emosi
· Menciptakan inovasi
· Manajemen keuangan pribadi
· Survival skills
· dan lain-lain
Why?
01 Februari 2012
Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik .
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri .
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran ?
7 Cara Menjadi Guru yang Profesional dalam Bersikap
2. Jika anda punya rekan baru, bimbinglah dan berikan support dan dukungan untuk maju dengan cara selalu berkomentar positip untuk hal-hal yang dilakukannya. Tempatkan diri anda pada dirinya, maka anda akan menjadi rekan kerja yang supportif dan mau mengerti.
3. Saat rapat, usahakan lah memberikan ide yang terbaik, masalahnya bukan pada diterima atau tidak, tapi sudahkah anda belajar meyakinkan orang lain bahwa ide andalah yang terbaik. Hal yang terbaik ketika meyakinkan rekan sekerja adalah dengan menggunakan data yang berupa hasil riset.
4. Jadilah guru yang berpikiran terbuka atas ide atau pendapat orang lain, menyadari kelemahan dan kekuatan diri kita sendiri, dijamin makin hari wawasan dan kualitas diri kita sebagai guru akan bertambah.
5. Ciptakan jaringan bagi diri sendiri yang membuat anda semakin hari berubah kearah guru yang lebih baik. Gunakan situs pertemanan seperti facebook untuk membuat jaringan pada pribadi-pribadi yang membuat anda bersemangat untuk maju. Jangan gunakan situs pertemanan untuk pelarian ketika anda mempunyai masalah dengan rekan sekerja di sekolah. Sambil berusaha sedikit demi sedikit menyelesaikan hal yang mungkin menjadi ganjalan , buktikan bahwa jika anda tidak mendapatkan support yang baik disekolah anda bisa mendapatkannya dengan bantuan teknologi.
6. Semua guru berbeda, seperti juga terhadap siswa, sebagai rekan kita semestinya menjadikan perbedaan itu sebagai anugrah. Dengan menyadari perbedaan, pikiran kita akan lebih cepat terbuka ketika menerima kritik, masukan dan ide dari rekan sekerja. Saat yang sama kita menjadi lebih jujur mengenai kelebihan dan tidak malu mengatakan kekurangan sebagai pribadi.
7. Jangan takut untuk dibicarakan oleh orang lain ‘dibelakang’. Terkadang sebagai guru, hanya karena takut dibicarakan orang lain dibelakang, guru menjadi malas untuk berinovasi dan melakukan sesuatu dengan cara yang kreatif dan beda. Padahal jika sebagai guru, kita yakin bahwa hal yang kita lakukan demi kebaikan siswa, untuk apa pusing mendengarkan pendapat orang lain. Mari mensucikan niat bahwa semua hal yang terbaik yang kita lakukan adalah demi mempersiapkan masa depan siswa, bukan demi karier, demi dipuji rekan, atasan dan orang tua siswa.
Gotong Royong
Ini merupakan sikap positif yang harus di lestarikan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kokoh & kuat di segala lini.Tidak hanya dipedesaan bisa kita jumpai sikap gotong royong,melainkan di daerah perkotaan pun bisa kita jumpai dengan mudah.Karena secara culture,budaya tersebut memang sudah di tanamkan sifat ini sejak kecil hingga dewasa.
Karena ini merupakan salah satu cermin yang membuat Indonesia bersatu dari sabang hingga merauke,walaupun berbeda agama,suku & warna kulit tapi kita tetap menjadi kesatuan yang kokoh.Inilah alah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia,di puja & puji oleh bangsa lain karena budayanya yang unik & penuh toleransi antar sesame manusia.
(Tenggelamnya) Penyelesaian Kasus Mesuji
Seperti sudah diduga sebelumnya, tindak lanjut dari laporan Tim Pencari Fakta Gabungan Kasus Mesuji kini sedang tenggelam. Tertutup oleh berita-berita lain yang kini lebih 'laku' untuk menjadi sorotan media.
Setidaknya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, hanya memberi tanggapan, "Sudah diserahkan ke polisi." Itu katanya usai memberi sambutan pada seminar Evaluasi Pemilihan Umum Kepala Daerah, di Jakarta, Rabu 25 Januari 2012.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Berry N Furqon juga menyatakan keraguannya akan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan kasus ini. Menurut Berry, seperti dikutipTempo, satu-satunya solusi yang ditawarkan pemerintah adalah meminta warga Mesuji keluar dari lahan di Register 45 padahal kawasan itu juga menjadi sumber mata pencaharian dan tempat tinggal.
Padahal, TPFG Mesuji sudah menemukan video yang mampu membuktikan adanya rekayasa oleh polisi di lapangan. Korban Made Aste yang, kata polisi "ditembak karena akan membacok seorang petugas polisi", ternyata tidak membawa parang sama sekali.
Video yang ditemukan oleh tim TPFG di bawah Denny Indrayana malah menunjukkan petugas di lapangan menaruh parang di tangan korban Made Aste, sementara perwira polisi di lapangan memberi laporan palsu akan ancaman pembacokan.
Indonesia memiliki rekor buruk untuk penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak azasi manusia. Dari kasus pembunuhan aktivis Munir, sampai mundur ke kasus penghilangan aktivis pada 1998, belum ada yang terbuka jelas peristiwa dan pelaku-pelakunya.
Padahal Mesuji kini sudah menjadi sebuah simbol, kasus puncak yang bisa menjadi ujian bagi Pemerintah Indonesia dalam membela hak-hak rakyatnya untuk sejahtera, yang haknya mencari penghidupan terancam saat investasi atau perusahaan perkebunan besar masuk ke wilayah mereka.
Para pembaca Yahoo! Indonesia diberi pertanyaan: Percayakah Anda Pemerintah mampu menindaklanjuti temuan TPFG Mesuji sampai tuntas?
Dari 395 orang yang menjawab pertanyaan itu, 79% menjawab ragu-ragu, sementara 21% menjawab masih percaya.
Kami juga meminta pembaca untuk menuliskan pendapat mereka lewat forum komentar. Hampir semuanya meninggalkan pesan yang pesimis.
Salah satunya Nazar Udin, "Masalahnya kita berhadapan dengan penyidik dan polisi yang sudah tidak bisa dipercaya. Apapun temuan tim pencari fakta hanya menggembirakan dan seolah pro rakyat, pada akhirnya akan melempem dan tak ada penyelesaian."
Atau seperti kata Upiw, "Kemungkinan sangat besar (kasus ini) pasti tenggelam. Pesimistis? Tolong ingatkan saya apa kasus besar yang bernuansa politik yang dapat terungkap secara terang dan tuntas sampai ke akarnya? Kasus Munir menjadi contoh, (Bank) Century? Mafia pajak? Wisma Atlet? Rangkaian kasus-kasus yang entah di mana ujungnya di atas telah membuat saya menjadi pesimistis."
Jawaban ini sesuai dengan analisis yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL/Pusat Hukum Lingkungan Indonesia) Henri Subagiyo yang menyatakan tidak pernah ada penegakan hukum di kasus-kasus kerusakan lingkungan .
Selain itu, Pansus Reformasi Agraria di DPR yang seharusnya menjadi harapan buat penyelesaian konflik-konflik tanah malahlayu dalam seminggu.
Pembaca Akhmad Syukri Isa mengingatkan, "Jangan lupa menelisik mafia yang merekayasa pelepasan dan penggunaan register 47 Way Terusan Tulang Bawang seluas 99 ribu ha oleh Sugar Group Companies dan Mitra Usahanya (PT. Garuda Pancaartha dan PT. Mulia Kasih Sejati).
Pada akhirnya, pembaca Anti, menyimpulkan komentar para pembaca Yahoo! Indonesia dengan sangat baik, "Intinya pendapat kami cenderung mirip, bahwa kepercayaan kami terhadap aparat dan kejelasan pelaksanaan hukum di negara ini sudah demikian kecilnya. Jangan salahkan masyarakat. Hukum dan aparat sebenarnya berpihak ke mana selama ini? Kalau ke pihak-pihak yang memiliki uang, jelas kami sebagai masyarakat menjadi tambah bingung. Apa atau siapa yang bisa menjadi keadilan bagi kami semua? Aparat yg seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat malah bertindak semena-mena. Pelaksanaan proses hukum juga tidak pernah tuntas. Bagaimana nasib rakyat Indonesia selanjutnya, kalau sebagian besar pihak yang berwenang malah menjadi penjahatnya?"
Setidaknya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, hanya memberi tanggapan, "Sudah diserahkan ke polisi." Itu katanya usai memberi sambutan pada seminar Evaluasi Pemilihan Umum Kepala Daerah, di Jakarta, Rabu 25 Januari 2012.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Berry N Furqon juga menyatakan keraguannya akan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan kasus ini. Menurut Berry, seperti dikutipTempo, satu-satunya solusi yang ditawarkan pemerintah adalah meminta warga Mesuji keluar dari lahan di Register 45 padahal kawasan itu juga menjadi sumber mata pencaharian dan tempat tinggal.
Padahal, TPFG Mesuji sudah menemukan video yang mampu membuktikan adanya rekayasa oleh polisi di lapangan. Korban Made Aste yang, kata polisi "ditembak karena akan membacok seorang petugas polisi", ternyata tidak membawa parang sama sekali.
Video yang ditemukan oleh tim TPFG di bawah Denny Indrayana malah menunjukkan petugas di lapangan menaruh parang di tangan korban Made Aste, sementara perwira polisi di lapangan memberi laporan palsu akan ancaman pembacokan.
Indonesia memiliki rekor buruk untuk penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak azasi manusia. Dari kasus pembunuhan aktivis Munir, sampai mundur ke kasus penghilangan aktivis pada 1998, belum ada yang terbuka jelas peristiwa dan pelaku-pelakunya.
Padahal Mesuji kini sudah menjadi sebuah simbol, kasus puncak yang bisa menjadi ujian bagi Pemerintah Indonesia dalam membela hak-hak rakyatnya untuk sejahtera, yang haknya mencari penghidupan terancam saat investasi atau perusahaan perkebunan besar masuk ke wilayah mereka.
Para pembaca Yahoo! Indonesia diberi pertanyaan: Percayakah Anda Pemerintah mampu menindaklanjuti temuan TPFG Mesuji sampai tuntas?
Dari 395 orang yang menjawab pertanyaan itu, 79% menjawab ragu-ragu, sementara 21% menjawab masih percaya.
Kami juga meminta pembaca untuk menuliskan pendapat mereka lewat forum komentar. Hampir semuanya meninggalkan pesan yang pesimis.
Salah satunya Nazar Udin, "Masalahnya kita berhadapan dengan penyidik dan polisi yang sudah tidak bisa dipercaya. Apapun temuan tim pencari fakta hanya menggembirakan dan seolah pro rakyat, pada akhirnya akan melempem dan tak ada penyelesaian."
Atau seperti kata Upiw, "Kemungkinan sangat besar (kasus ini) pasti tenggelam. Pesimistis? Tolong ingatkan saya apa kasus besar yang bernuansa politik yang dapat terungkap secara terang dan tuntas sampai ke akarnya? Kasus Munir menjadi contoh, (Bank) Century? Mafia pajak? Wisma Atlet? Rangkaian kasus-kasus yang entah di mana ujungnya di atas telah membuat saya menjadi pesimistis."
Jawaban ini sesuai dengan analisis yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL/Pusat Hukum Lingkungan Indonesia) Henri Subagiyo yang menyatakan tidak pernah ada penegakan hukum di kasus-kasus kerusakan lingkungan .
Selain itu, Pansus Reformasi Agraria di DPR yang seharusnya menjadi harapan buat penyelesaian konflik-konflik tanah malahlayu dalam seminggu.
Pembaca Akhmad Syukri Isa mengingatkan, "Jangan lupa menelisik mafia yang merekayasa pelepasan dan penggunaan register 47 Way Terusan Tulang Bawang seluas 99 ribu ha oleh Sugar Group Companies dan Mitra Usahanya (PT. Garuda Pancaartha dan PT. Mulia Kasih Sejati).
Pada akhirnya, pembaca Anti, menyimpulkan komentar para pembaca Yahoo! Indonesia dengan sangat baik, "Intinya pendapat kami cenderung mirip, bahwa kepercayaan kami terhadap aparat dan kejelasan pelaksanaan hukum di negara ini sudah demikian kecilnya. Jangan salahkan masyarakat. Hukum dan aparat sebenarnya berpihak ke mana selama ini? Kalau ke pihak-pihak yang memiliki uang, jelas kami sebagai masyarakat menjadi tambah bingung. Apa atau siapa yang bisa menjadi keadilan bagi kami semua? Aparat yg seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat malah bertindak semena-mena. Pelaksanaan proses hukum juga tidak pernah tuntas. Bagaimana nasib rakyat Indonesia selanjutnya, kalau sebagian besar pihak yang berwenang malah menjadi penjahatnya?"
Strategi Belajar Dengan Moving Class
Moving class merupakan sistem belajar mengajar yang bercirikan siswa yang mendatangi pendamping di kelas. Konsep Moving Classmengacu pada pembelajaran kelas yang berpusat pada anak untuk memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Dengan moving class, pada saat subjek mata pelajaran berganti maka siswa akan meninggalkan kelas menuju kelas lain sesuai mata pelajaran yang dijadwalkan, jadi siswa yang mendatangi pendamping, bukan sebaliknya. Keunggulan sistem ini adalah para siswa lebih punya waktu untuk bergerak, sehingga selalu segar untuk menerima pelajaran.
Sementara para pendamping, dapat menyiapkan materi terlebih dahulu. Kemampuan belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Anak-anak akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar yang didukung lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep yang jelas. Untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bereksplorasi, mencipta, berpikir kreatif, dan mengembangkan kemampuan lain yang dimiliki siswa, sekolah perlu menerapkan berbagai model pembelajaran yang dikelola dengan sistemMoving Class.
Moving class merupakan sistem belajar mengajar yang bercirikan siswa yang mendatangi pendamping di kelas. Konsep Moving Class mengacu pada pembelajaran kelas yang berpusat pada anak untuk memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Dengan Moving Class, siswa akan belajar bervariasi dari satu kelas ke kelas lain.
Sesuai dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Adapun tujuan penerapan moving class adalah:
1. Memfasilitasi siswa yang memiliki beraneka macam gaya belajar baik visual, auditori, dan khususnya kinestetik untuk mengembangkan dirinya.
2. Menyediakan sumber belajar, alat peraga, dan sarana belajar yang sesuai dengan karakter mata pelajaran
3. Melatih kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial siswa. Karena dalam moving classmereka akan bertemu dengan siswa lain bahkan dari jenjang yang berbeda setiap ada perpindahan kelas atau pergantian mata pelajaran.
4. Merangsang seluruh aspek perkembangan dan kecerdasan siswa (multiple intelegent)
5. Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran;
a. Proses pembelajaran melalui Moving Class akan lebih bermakna karena setiap ruang/laboratorium mata pelajaran dilengkapi dengan perangkat-perangkat pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Jadi setiap siswa yang akan masuk suatu ruang/laboratorium mata pelajaran sudah dikondisikan pemikirannya pada mata pelajaran tersebut.
b. Pendampping mata pelajaran dapat mengkondisikan ruang/laboratoriumnya sesuai dengan kebutuhan setiap pertemuan tanpa harus terganggu oleh mata pelajaran lain.
6. Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Waktu Pembelajaran Pendamping mata pelajaran tetap berada di ruang/laboratorium mata pelajarannya, sehingga waktu pendamping mengajar tidak terganggu dengan hal-hal lain.
7. Meningkatkan Disiplin Siswa dan Pendamping
a. Pendamping akan dituntut datang tepat waktu, karena kunci setiap ruang/laboratorium dipegang oleh masing-masing Pendamping mata pelajaran.
b. Siswa ditekankan oleh setiap pendamping mata pelajaran untuk masuk tepat waktu pada pada saat pelajarannya.
8. Meningkatkan keterampilan pendamping dalam memvariasikan metode dan media pembelajaran yang diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehari-hari.
9. Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat dan bersikap terbuka pada setiap mata pelajaran.
10. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Dalam segala kebijakan yang terkait dengan kondisi di dalam kelas, Pendamping mempunyai otoritas sesuai dengan yang menjadi kesepakatan dalam program pembelajaran. Moving classjuga dapat berdampak buruk bagi siswa, misalnya siswa akan tiba di kelas terlambat disesuaikan dengan alasan yang sangat riil apabila itu juga dilakukan oleh Pendamping sendiri. Pada dasarnya akan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik itu Kepala Sekolah, Pendamping mata pelajaran dan siswa sendiri. Kaitannya adalah diharapkan dengan adanya dukungan akan menciptakan iklim yang baik dalam sebuah unit kerja, dimana dilakukan pencegahan supaya tidak terjadi konflik-konflik yang pada akhirnya akan bermuara pada sebuah dendam.
Langganan:
Postingan (Atom)





