17 November 2011

Haji : Menabur Amal, Menuai Fitrah


Haji secara umum berarti menyengaja untuk menuju Tanah Suci Makkah dalam rangka memenuhi panggilan Allah swt. Kalimat Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka yang dikenal dengan istilah talbiyah adalah senandung para jamaah haji.
Makna dari talbiyah secara umum adalah sebagai berikut :
1. Labbaik Allahumma Labbaik, artinya adalah kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
2. Labbaika la syarika laka labbaik, artinya tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
3. Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka, artinya sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.
Apa yang disenandungkan oleh para jamaah haji ini mengandung unsur yang fundamental dalam ajaran Islam. Janji untuk memenuhi panggilan Allah -jika keluar dari lubuk hati yang paling dalam- akan memotivasi jamaah melaksanakan haji dengan sungguh-sungguh, dan berusaha melaksanakan alfabeta kegiatan haji dengan semaksimal mungkin.
Pernyataan untuk tidak menyekutukan Allah, akan membuat para jamaah haji berhati-hati dari segala macam praktik yang berbau syirik. Banyak tempat di tanah haram yang secara sembrono diyakini orang dapat mendatangkan kebaikan dan menolak musibah, padahal kenyataannya tidaklah demikian dan tak ada dalil yang menyatakan hal itu. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan komitmen tidak menyekutukan Allah, jamaah haji bisa kehilangan pahala ibadahnya .
Sedangkan pernyataan bahwa pujian, nikmat dan kerajaan hanya milik Allah akan menjadikan para jamaah haji sebagai tamu-tamu Allah yang baik, tidak congkak dan selalu sadar akan kelemahan dirinya yang sangat memerlukan bimbingan dan pengayoman dari Allah.

Menabur Amal, menuai fitrah
Ibadah haji merupakan ajang bagi para jamaah untuk menabur benih amal. Banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan selama berada di sana, diantaranya;
1. Melaksanakan shalat berjamaah secara rutin di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, karena pahalanya sangat besar. Ada sebagian jamaah haji yang hanya bersemangat melaksanakan shalat berjamaah di masjid nabawi karena ada hadits tentang fadhilah shalat arbain, tetapi di saat tiba di Makkah mereka lebih memilih shalat di pondokan daripada berjama’ah di Masjidil Haram. Pandangan ini adalah keliru, karena shalat di Masjidil Haram pahalanya lebih banyak daripada shalat di tempat manapun juga.
2. Melaksanakan ibadah haji dengan persiapan ilmu yang baik. Sebuah ibadah akan membuahkan hasil dan diterima oleh Allah Swt. jika memenuhi dua syarat, yaitu; niat yang ikhlas dan mencontoh Rasulullah saw dalam tatacaranya. Untuk ibadah haji, Rasulullah saw bersabda : “Ambillah dariku tatacara ibadah haji kalian”. Sejak melakukan ihram untuk haji di hari tarwiyah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan pulang lagi ke Mina untuk melempar jumrah sughra, wustha dan aqabah (kubra), serta thawaf ifadhah adalah kesempatan besar untuk meraih pahala dan keampunan dari Allah swt, jika ibadah haji dilandasi dengan ilmu.
Ada sebagian jamaah yang mengabaikan tatacara Rasulullah ini. Pada hari ke delapan yang seharusnya mabit di Mina ada yang langsung berangkat ke Arafah. Setelah meninggalkan Arafah kewajiban yang seharusnya adalah mabit di Muzdalifah. Tetapi dalam praktiknya ada sebagian jamaah yang hanya mengambil dan mengumpulkan kerikil di Muzdalifah lalu berangkat dan bermalam di Mina.
3. Banyak berdoa kepada Allah swt untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Di sela-sela ayat tentang ibadah haji (QS. Al-Baqarah : 197-203), Allah swt mengelompokkan orang yang berangkat haji dalam dua kategori besar. Kategori itu berdasarkan kecenderungan doa yang mereka panjatkan kepada Allah. Ada orang yang berangkat haji dengan harapan agar hartanya semakin berkembang, tetapi kata Allah, kelompok ini secara pasti tidak akan mendapatkan bagian apa pun di akhirat. Bahkan bagian mereka di dunia pun belum pasti. (QS. Al-Baqarah: 200) Kelompok ke dua adalah orang yang berangkat haji untuk mendapatkan kebaikan hidup dari Allah baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kelompok ke dua ini Insya Allah akan mendapatkan bagian dari apa yang mereka usahakan. (QS. Al-Baqarah: 201) Diantara tempat paling penting untuk berdoa adalah saat berada di Arafah.

Apa Setelah Haji ?
Besarnya jumlah jamaah haji setiap tahunnya merupakan aset yang sangat potensial bagi kemajuan umat Islam di Indonesia. Tapi berapa pun jumlah jamaah haji, pengaruhnya tidak akan efektif bagi perkembangan dan kemajuan umat jika tidak disertai pembinaan yang baik dan sempurna bagi mereka khususnya dari pemerintah -dalam hal ini Departemen Agama- dan biro-biro perjalanan haji. Para jamaah harus memiliki wawasan Islam yang cukup untuk membangkitkan semangat mereka dalam melakukan dakwah di masyarakatnya yang diikuti dan diteladani setelah pulang dari melaksanakan ibadah haji.

Kesucian fitrah yang diraih oleh jamaah haji tidak akan bertahan lama manakala tiba ke daerahnya dia kembali harus mengarungi kehidupan di tengah suasana yang tidak mendukung kesucian fitrah. Selama berada di tanah suci para jamaah telah merasakan keindahan shalat berjamaah, kedamaian suasana ibadah, dan keteduhan jiwa mendengarkan lantunan pesan ilahi. Para jamaah juga menyaksikan kebersihan lingkungan dari pornografi dan tempat-tempat maksiat. Pasar-pasar dihiasi dengan lantunan Al-Qur'an. Para jamaah pasti menikmati suasana tersebut. Pertanyaan yang perlu direalisasikan bersama adalah; bagaimana upaya kita memindahkan suasana kedamaian dan keteduhan tanah suci itu ke negeri tercinta yang sedang galau ditimpa oleh berbagi macam masalah ini ?

Amal dan Kerja


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari Dunia.”(Al-Qashash: 77). Dalam ayat lain disebutkan: “Apabila telah selesai shalat, maka hendaklah kalian bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan sebutlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian memperoleh keberuntungan.” (Al-Jumu’ah: 10). “Dan katakanlah: "bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. (At Taubah:105). Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. bersabda: “Bekerjalah, karena setiap kalian dimudahkan untuk melakukan amal tertentu.”

Kualitas keyakinan kepada Allah SWT. yang terpatri dalam diri seorang muslim sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk mengaktualisasikan dalam kehidupan. Maka, selalu saja dalam Al-Quran kalimat amanuu (beriman) digandengkan dengan kalimat amiluu (bekerja) dengan bentuk derivatif kalimatnya. Secara tegas bahwa keberimanan seseorang harus parallel dengan aktualisasinya dalam kehidupan. Bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman. Bekerja bagi Umat Islam adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar kekayaan dan seterusnya.

Suatu hari Rasulullah Saw. berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, “tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang yang tidak akan pernah tersentuh api Neraka”.

Alangkah mulianya ajaran Islam tentang etos kerja.. Dengan motivasi ibadah, bekerja semestinya selalu memberikan yang terbaik. Bekerja sebaik mungkin. Dengan ihsan dan itqan (cara yang paling baik). “maka berbuat baiklah sebagaimana Allah SWT. telah berbuat baik kepadamu” (Al Qashash: 77).


Ajaran etos kerja telah dicontohkan Rasulullah. Sejak masa remaja beliau adalah seorang pedagang yang ulet, berdagang jauh sampai ke Negeri Syam. Berkat kerja keras itu usaha dagang Rasulullah berkembang. Jauh sebelum beliau, para Nabi dan Rasul juga mengajarkan kita tentang etos kerja. Nabi Nuh pandai membuat Kapal, Nabi Musa seorang pengembala, Nabi Sulaiman seorang insiyur yang hebat, Nabi Yusuf seorang akuntan, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Nabi Isa seorang tabib yang mumpuni. Meski sebagai Nabi dan Rasul, mereka bekerja dan tetap menjaga etos kerja. Allah SWT. mampu untuk menjadikan mereka hidup tanpa sibuk bekerja keras mencari nafkah, dan mungkin itu bisa mengkondisikan mereka untuk fokus dan memiliki waktu dan tenaga lebih untuk melakukan dakwah. Jika Allah SWT. berkehendak demikian mungkin saja. Tetapi ceritanya berbeda. Dan kita bisa mengambil apa hikmah dari adanya kisah etos kerja mereka?

Memakmurkan Bumi
Allah SWT. telah melapangkan bumi dan menyediakan banyak fasilitas, agar manusia dapat berusaha mencari sebahagian dari rizki yang disediakan-Nya bagi kemaslahatan manusia dan makhluk secara umum. “Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya.” (Al-Mulk: 15). Dalam ayat lain: “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”. (Al-A’raf: 10).

Bersyukur kepada Allah SWT. atas fasilitas yang disediakan dengan cara memberdayakannya dengan berusaha dan bekerja untuk kebaikan Dunia dan Akhirat. Kerja dan usaha tentunya tidak terlepas dari peran memakmurkan bumi Allah SWT. Itulah peran manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Sehingga lahir berbagai kemaslahatan dan terhindar dari fasad (kerusakan). “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al-A’raf: 56).

Dampak yang dihasilkan dari kerja dan usaha berupa karya, baik yang bersifat fisik maupun non fisik harus memiliki orientasi kemaslahatan, bukan malah sebaliknya. Cukup naïf bila kita mendengar Negara-negara maju dan adidaya malah menjadi biang keladi berbagai fenomena kerusakan di Dunia. Penjajahan, pembodohan, perampasan dan penganiayaan dengan berbagai bentuk dan cara. Itu dalam skup makro hubungan antar Negara atau Peradaban. Terjadi juga dalam skup terkecil antar individu. Sikap individualis pragmatis, hanya mementingakan diri sendiri, yang penting untung masa bodoh dengan nasib orang lain menjadi sikap yang harus senantiasa dikikis dari mental masyarakat secara umum. Sikap masa bodoh terhadap sesama diancam Rasulullah Saw. dalam sabda beliau yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra.: “Tidak beriman kepadaku siapa yang bermalam hari dalam kondisi kenyang namun tetangga di sampingnya merasakan kelaparan, dan ia mengetahui (kondisi) tetangganya itu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah). Demikian akibat sikap individualis dan masa bodoh terhadap sesama. Bagaimana dengan sikap menzalimi orang lain? Bagaimana bila usaha atau kerja malah menebar kerusakan?

Rasulullah Saw. dijuluki sebagai rahmatan lil alamin. Abu bakar Ashhiddiq disebut dalam hadits Rasul Saw. sebagai: “Dari Umatku yang paling sayang kepada Umatku (arhamu ummatii bi ummatii) adalah Abu Bakar”. Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah memperhatikan infrastruktur yang dibangun demi kemaslahatan rakyat, bahkan binatang sekalipun. “Jika ada keledai terperosok di Irak maka Umar akan dimintai pertanggungjawaban” begitu ucap Umar ra. Beliau juga pernah memerintah aparatnya untuk menebar gandum di bukit-bukit, agar tidak ada burung yang kelaparan di negeri Muslim.

Adab Bekerja
Bekerja dengan motivasi di atas bisa melahirkan kerja keras, tegar, jujur dan profesional. Adapun kerja yang didasari hanya dengan motivasi jabatan dan kekayaan menjadikan seseorang bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan dan kekayaan, jika tidak ada, ia akan enggan atau bermalas-malasan. Tetapi motivasi ibadah dalam bekerja bisa melahirkan karya dan produktivitas meski tidak dalam pengawasan manusia, meski jauh dari kontrol atasan.


Bekerja untuk pengabdian dan agar menggapai ridha Allah perlu memperharikan adab-adab sebaga berikut:
a. Menghadirkan niat yang baik. Niat ibadah karena Allah, niat mencari rizki yang halal, niat memakmurkan bumi Allah dan niat baik lainnya. Dengan niat ini amal kebiasaan atau rutin seseorang bisa bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pada satu pagi Rasul Saw. Dan para Sahabat sedang berkumpul kemudian mereka melihat seseorang yang kuat berjalan dengan cepat dan enerjik menuju kerja. Para Sahabat takjub terhadap orang tersebut. Maka para Sahabat berkata: Wahai Rasul Saw. bila saja ia berada dalam jalan Allah (fi Sabilillah) -pasti lebih baik baginya-. Maka Rasul Saw. berkata: “Jika ia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka itu berarti fi Sabilillah. Jika ia bekerja untuk kedua orangtuanya yang renta maka itu berarti fi Sabilillah. Dan jika ia bekerja karena riya dan kebanggaan maka itu di jalan Setan”. (HR. Atabrani).
b. Tidak menunda-nunda amal. Dalam kaitan ini Rasulullah Saw. mendorong Umatnya nutuk berpagi-bagi,haditsnya berbunyi: Ya Allah berkahilah Umatku di pagi hari. (HR. Tirmidzi, Ibnu majah dan Ahmad). Dalam pepatah Arab disebutkan: “jangan tunda amal hari ini hingga esok.”
c. Bersungguh-sungguh. Pepatah mengatakan: Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan dapat”.
d. Bekerja dengan rapi. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT. mencintai seseorang yang bekerja dengan rapi di antara kalian”. (HR. Baihaqi).
e. Tawadhu (Rendah hati) dan syukur. Sebagus apapun pekerjaannya, seorang Muslim dilarang untuk bersikap sombong. Rasul Saw. bersabda: Tidak masuk Surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. (HR. Muslim).
f. Tidak melupakan kewajiban ibadah kepada Allah SWT. Meskipun bekerja bisa menjadi sarana penghambaan diri kepada Allah SWT., ia tidak sepatutnya melenakan manusia dari menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah kepada Allah SWT.
g. Meninggalkan hal-hal yang dilarang agama. Agar pekerjaan bisa bernilai ibadah dan diterima di sisi Allah SWT. perlu ada minimal dua syarat; pertama, niat karena Allah SWT. dan kedua, tidak bertentangan dengan aturan syariat.

Bekerja dengan motivasi, cara dan orientasi yang mulia menjadi perkara yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Amal yang menjadikan manusia sebagai wakil Allah SWT. dalam memakmurkan bumiNya. Bekerja dengan model seperti ini tidak menjadikan rentang waktu panjang yang habis, tenaga dan pikiran yang terkuras menjadi sia-sia. Sebaliknya, sangat disayangkan siapa yang waktu, tenaga dan pikirannya banyak tercurah dalam bekerja, namun tidak menjadi sesuatu yang mulia berupa ibadah dan manfaat kelak bagi kehidupan masa depannya, utamanya di Akhirat sana. Wallahu a’lam.

11 November 2011

“Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”


Bismillahirrahmaanirrahiim. 

Berikut adalah puisi berjudul, “Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”. Puisi ini ditulis sang maestro puisi di Indonesia, Taufiq Ismail (semoga Allah menerima jerih-payah perjuangan dan empatinya bagi kaum Muslimin di Indonesia selama ini, Allahumma amin). 

“MUNGKIN SAYA SENDIRI JUGA MALING” 

Karya Bung Taufiq Ismail 

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,anak-anak tak bisabersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya. 

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan
Penunggak Bank Dunia. 

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena
majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula. 

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak
bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya. 

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi . 

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. 

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah
dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah. 

Bagaimana ini? 

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian. 

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali
perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya? 

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan? 

Percuma 

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga,
orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka. 

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan
diam-diam berharap semoga kita
mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan. 

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,
televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai. 

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna. 

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam. 

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku. Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

10 November 2011

Dari Mana Paku dan Jarum di Tubuh Safira, Ini penyakit aneh


Sebanyak 24 logam sejenis paku, satu potongan jarum suntik, dan sebatang aluminium bersarang di kedua betis Safira (sebelumnya disebut Safirah), bocah tiga tahun dari Pare-pare Sulawesi Selatan. Satu potongan jenis logam masih berada di antara perut dan punggung. Keluarga baru mengetahui penyakit aneh ini sejak beberapa minggu lalu.

"Pertama terungkap, beberapa minggu lalu ada benjolan keluar dari betis kanan Safira," kata paman korban, Wawan, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Rabu 2 November 2011.

Saat terlihat ada benjolan mencurigakan itu, keluarga mengamati dengan rinci. Benjolan-benjolan itu rupanya tidak hanya berada di satu titik. Tapi menjorok dari dalam ke luar di beberapa lokasi permukaan betis. Dan itu tidak hanya berada di betis kanan.

"Ketika dilihat seperti ada logam. Saat diperiksa secara fisik, ada benjolan-benjolan lain," kata Wawan. Keluarga pun khawatir bukan kepalang.

Belum diketahui kapan pastinya benjolan itu terlihat. Ada yang menyebut sejak 6 bulan lalu, ada yang mengatakan baru sekitar 3 bulan lalu.

Safira dan ibunya, Syarifah, tinggal warga Jalan Reformasi, Kelurahan Tiro Sompe, Kecamatan Bacukiki Barat, Parepare, Sulawesi Selatan. Keluarga memutuskan membawa Safirah ke RS Umum Daerah Pare-pare.

"Tiga atau empat hari lalu, kami bawah ke Rumah Sakit Umum Daerah Pare-pare," kata Wawan. Setelah dibawa ke rumah sakit, keesokan harinya dokter melakukan rontgen pada dua betis Safira.

"Hasilnya positif. Bahwa benda yang berada di dalam betis Safirah itu adalah memang logam," kata Wawan.

Direktur RSUD Pare-pare dr Jamal, menegaskan bahwa kasus jenis ini baru pertama kali ditangani RSUD Parepare. Dokter Jamal membenarkan bahwa logam-logam itu bersarang di dalam betis Safirah.

Tetapi, Jamal tidak berani menyimpulkan penyakit apa yang diderita Safirah. Jamal mengakui bahwa ini kasus aneh yang belum dapat dijelaskan secara medis. "Tapi ini fakta dan tidak kami bantah. Saya pribadi menganggap ini aneh. Kalau ini disengaja, juga tidak mungkin," kata dia.

Menurut dia, batang logam yang dikeluarkan dari dua betis bocah itu memiliki ukuran dan jenis berbeda. Total, ada 24 batang logam berbentuk paku, satu potongan jarum suntik, dan sebatang aluminium. "Panjangnya 3 hingga 5 centimeter," ujar Jamal. (Laporan: RHA, Makassar)

Manusia Pertama di Dunia dengan Tubuh Penuh Akar




Seorang manusia didiagnosis penyakit aneh dimana seluruh tubuhnya ditumbuhi oleh akar.Adalah Dede, seorang pria berusia 35 tahun, warga Indonesia, membuat para ahli medis kebingungan dengan penyakit yang dideritanya, pasalnya ditubuhnya tumbuh akar-akar kecil seperti kutil yang menjalari seluruh lengan dan kakinya.”Peristiwa ini terjadi setelah dia memotong lututnya saat mengalami kecelakaan sewaktu remaja. Bilur-bilur akar yang menyebar diseluruh tubuh pria ini tak dapat dicegah sehingga menyulitkannya dalam melakukan kegiatan apapun.” Meskipun begitu, dokter setempat tidak bisa menyembuhkan penyakit anehnya ini. Tetapi, untungnya seorang ahli penyakit kulit Amerika, Dr Anthony Gaspari dari Universitas Maryland bersedia mendatangi pria yang tinggal di daerah Selatan Jakarta ini.

Dr. Gaspari datang untuk melihat keadaan penyakit Dede serta akan melakukan perawatan medis yang mungkin saja dapat merubah hidupnya.Menurut Dr. gaspari, penyakit yang diidap Dede dikarenakan sebuah virus yaitu Human Papilloma Virus (HPV), yang disebabkan oleh infeksi semacam kutil.Dede memiliki struktur gen yang aneh sehingga mengganggu sistem kekebalan tubuhnya dan tak dapat mencegah kutil-kutil tersebut untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, virus pun dapat menyerang dengan mudah pertahanan sel-sel kulit yang dimilikinya.

Karena penyakitnya ini, tangan dan kaki Dede terlihat seperti akar-akar tumbuhan. o-a t l n } US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA'>Meskipun begitu, dokter setempat tidak bisa menyembuhkan penyakit anehnya ini. Tetapi, untungnya seorang ahli penyakit kulit Amerika, Dr Anthony Gaspari dari Universitas Maryland bersedia mendatangi pria yang tinggal di daerah Selatan Jakarta ini.

“Saya akan membawanya ke Amerika untuk melakukan tes mengenai sistem kekebalan tubuhnya, tetapi saya juga membutuhkan dana bantuan dari sukarelawan untuk membiayai kepengurusan visa serta tes tersebut.” kata Dr Anthony Gaspari, seperti dikutip dari telegraph. “Saya belum pernah melihat penyakit aneh seperti ini sepanjang karir saya.” tambahnya. 

Meskipun begitu, dokter setempat tidak bisa menyembuhkan penyakit anehnya ini. Tetapi, untungnya seorang ahli penyakit kulit Amerika, Dr Anthony Gaspari dari Universitas Maryland bersedia mendatangi pria yang tinggal di daerah Selatan Jakarta ini.

17 Tahun Noorsyaidah Derita Penyakit Aneh, Puluhan Kawat Keluar dari Perut dan Dada *)

Noorsyaidah memperlihatkan belasan kawat yang keluar keluar dari perutnya

Selama 17 tahun Noorsyaidah menderita penyakit aneh. Puluhan kawat seperti tertancap di perut dan dadanya. Ternyata kawat-kawat itu keluar dari dalam tubuhnya. Prof Dr dr HR Moh Yogiantoro Sp PD-KGH dari RSU Dr Soetomo Surabaya menyatakan penyakit itu di luar jangkauan diagnosa medis. 

NOORSYAIDAH terus menahan sakit dari penyakit aneh yang dideritanya. Pada perut dan dada perempuan berusia 40 tahun ini bermunculan puluhan batang kawat sepanjang sekitar 20 cm. “Mungkin Allah SWT ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasan-Nya apapun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah,” kata Noor dengan pasrah.

Saat ditemui di kediaman saudara perempuannya di Jl Merdeka III, Samarinda Ilir, Noor terpaksa harus berjalan membungkuk agar kawat-kawat di perutnya itu tak mengenai baju kaus warna merah yang dikenakannya.
Bahkan, Noor pun hanya bisa duduk di pinggir kursi dan tetap membungkuk karena sedikit saja dia bergerak, kawat di tubuhnya itu akan menyentuh kain bajunya dan menimbulkan rasa nyeri.

“Ini karena ada Mas saja saya pakai baju. Biasanya saya tidak pakai baju karena terus terang saja kawat-kawat ini kalau menyentuh barang apa saja rasanya sangat sakit sekali,” ujarnya sembari menyingkapkan bajunya dan memperlihatkan kawat-kawat yang tumbuh di bagian perutnya itu.

Guru aktif TK Al-Quran di Sangatta, Kutai Timur, itu menceritakan, penyakit yang dideritanya itu dialami sejak tahun 1991. Tanpa sebab musabab kawat-kawat itu tiba-tiba saja bermunculan di perutnya dan bagian dadanya. Padahal, saat itu dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sospol Universitas Mulawarman Samarinda.

“Tapi, kalau dulu hanya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Nanti sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Nah, sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perut saya ini tidak ada yang jatuh atau hilang. Jadi, sungguh menderita sekali,” katanya.

Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang pintar sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Dia sudah menjalani puluhan kali operasi, tapi tetap saja kawat-kawat itu muncul kembali setelah dicabut dengan cara medis.

“Semua orang bilang bahwa penyakit saya ini terkena santet atau semacamnya. Tapi berani jujur bahwa saya ini tak pernah punya musuh atau menyakiti orang lain. Makanya dokter atau orang pintar yang mengobati penyakit saya ini juga bingung untuk menyembuhkannya,” ujarnya.

Saat ini, untuk menghilangkan perasaan sakit atau stres akibat penyakit yang dialaminya itu tak kunjung sembuh, Noor mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial, misalnya mengajar. “Tapi, kalau malam sudah datang, ya terpaksa harus terpikir, kenapa saya mengalami nasib seperti ini. Mudah-mudahan saja suatu saat ada hikmahnya buat saya, amin,” katanya penuh harap.

Menkes prihatin
Penyakit aneh yang diderita Noorsyaidah menarik perhatian Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari. Menkes mengaku sangat prihatin terhadap Noorsyaidah yang harus menahan sakit karena dari tubuhnya keluar ratusan batang kawat selama 17 tahun terakhir.

Menkes berjanji akan membantu Noorsyaidah agar bisa sembuh dari penyakit langka itu. “Saya pasti tindaklanjuti. Habis ini saya akan hubungi orang di Kaltim untuk menindaklanjuti. Saya juga ingin tahu apa sebenarnya yang dialami ibu itu,” kata Siti Selasa (8/7).

Siti mengaku belum mengetahui secara pasti karena tidak mendapat laporan dari pejabat pemerintahan terkait di Kaltim. Karena itu, terhadap fenomena itu, Siti mengaku belum berani berkomentar banyak. Meski ia juga seorang dokter, Siti tidak bisa menjelaskan secara medis apa yang dialami Noosyaidah. Ia hanya meminta agar Noorsyaidah kembali dibawa ke dokter.

“Dokter bilang sakit apa? Belum pernah dibawa ke dokter kali, cepat bawa ke rumah sakit,” saran dia.
Tak hanya itu, Siti yang masih penasaran juga meminta wartawan Tribun Kaltim (grup Tribun Batam) untuk mengirimkan SMS yang berisi nama dan alamat lengkap Noorsyaidah ke ponselnya. “Nanti saya lihat beritanya di online. Tapi saya minta tolong kirimkan nama dan alamat lengkapnya ibu itu di Samarinda ya. Nanti akan saya tindaklanjuti,” katanya.

Senada dengan Menkes, Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Tarmizi Abdul Karim merasa kasihan terhadap nasib Noorsyaidah. Ia bahkan langsung berkunjung ke kediaman warganya itu. “Saya secara pribadi sangat kasihan melihatnya yang harus menderita dengan penyakit aneh seperti itu,” kata Tarmizi.

Tarmizi juga telah memerintahkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, untuk segera mengambil langkah-langkah untuk mengobati Noorsyaidah. “Penyakit yang diderita Ibu Noor itu memang harus segera dicarikan solusi penyembuhannya, tak bisa dibiarkan seperti itu. Dinkes harus bertindak cepat mengatasinya,”ujarnya. (persda network/tribun kaltim/muh khaidir/abduh kuddu)

*) Semua tulisan tentang Noorsyaidah telah terbit di Tribun Batam edisi cetak maupun online












“Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”


Bismillahirrahmaanirrahiim. 

Berikut adalah puisi berjudul, “Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”. Puisi ini ditulis sang maestro puisi di Indonesia, Bang Taufiq Ismail (semoga Allah menerima jerih-payah perjuangan dan empatinya bagi kaum Muslimin di Indonesia selama ini, Allahumma amin). 

“MUNGKIN SAYA SENDIRI JUGA MALING” 

Karya Bung Taufiq Ismail 

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,anak-anak tak bisabersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya. 

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan
Penunggak Bank Dunia. 

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena
majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula. 

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak
bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya. 

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi . 

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. 

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah
dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah. 

Bagaimana ini? 

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian. 

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali
perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya? 

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan? 

Percuma 

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga,
orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka. 

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan
diam-diam berharap semoga kita
mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan. 

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,
televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai. 

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna. 

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam. 

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku. Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara